Ketika Kelly Loi berusia 4 tahun, ia menerima permen dari seorang dokter anak. Tindakan ini tidak hanya memberinya ketenangan pada kunjungan ke dok- ter berikutnya. Hal itu juga menentukan masa depan gadis cilik Singapura yang kemudian tumbuh menjadi seorang dokter dan membantu pasangan suami-istri mewujudkan impian mereka untuk memiliki keturunan.

CIPTAKAN KEHIDUPAN, CIPTAKAN KELUARGA

Dr Kelly Loi adalah seorang spesialis kesuburan di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Dokter lulusan ilmu pengobatan reproduksi dari Universitas Oxford ini telah belajar dari para pionir global di bidang- nya, termasuk Profesor Jacque Donnez dari Belgia, yang memimpin proses persalinan sukses pertama melalui transplantasi jaringan ovarium.

Selama lebih dari 23 tahun, sekitar 250.000 pasien dari seluruh dunia datang ke Parkway Fertility Centre dengan berbagai masalah kesuburan. Dr Loi dan rekan-rekannya adalah salah satu tim spesialis kesuburan yang memiliki sertifikat terbaik di dunia. Maka, tak mengherankan jika Parkway Fertility Centre mempunyai tingkat kesuksesan paling tinggi di dunia, yakni mencapai 40%.

Perawatan di pusat kesehatan ini di-

lakukan di fasilitas-fasilitas paling modern. Yang tak kalah penting bagi pasien dari Singapura ataupun dari seluruh dunia, konseling dan perawatan kesuburan tersebut dilakukan dalam suasana yang sangat nyaman dan pribadi. “Kami berusaha meyakinkan pasien kami bahwa semuanya bersifat rahasia,” kata Dr Loi, seraya menegaskan ada beberapa pasang- an yang tidak ingin keluarga atau teman mereka mengetahui bahwa mereka tengah menjalani perawatan.

Dengan kerahasiaan yang terjamin, para dokter di Parkway Fertility Centre bisa berkonsentrasi mencari tahu mengapa si pasien belum berhasil memiliki keturunan, sekaligus menemukan solusinya. “Apabila pasien telah berusaha selama enam bulan sampai satu tahun untuk hamil tapi gagal, tentu tergantung pada usia dan sejarah

ADVERTORIAL

medis yang lain, mereka akan menjalani pemeriksaan untuk menentukan apa yang salah,” ujar Dr Loi.

Tes awal yang dilakukan mencakup analisis tentang riwayat medis dari si pasien, pemeriksaan untuk mengetahui tingkat hormon calon ibu, jumlah sel telur, fungsi tuba, dan USG untuk memastikan kesehatan rahim serta indung telur. Sedangkan calon ayah akan menjalani tes untuk menentukan jumlah dan kualitas sperma.

Untuk pasien wanita, rangkaian tes panjang itu cukup memakan waktu. Me- reka harus menjalani tes hormon selama siklus menstruasi. Bagi pasien internasional, ini berarti mereka harus menjadwalkan kunjungan mereka dari hari ke-2 sampai ke-4 siklus menstruasi dan tinggal di Singapura selama tujuh sampai sepuluh hari untuk menjalani pemeriksaan. Rangkaian tes ini dilakukan untuk mengetahui alasan medis yang membuat pasangan itu tidak bisa hamil. “Penyebab utama ketidaksuburan yang termasuk masalah kaum wanita antara lain endometriosis. Ini merupakan sebuah kondisi penyakit kandungan yang mengakibatkan nyeri parah ketika haid dan tumbuhnya kista indung telur. Hal itu bisa memengaruhi fungsi tuba,” ujar Dr Loi.

Penyebab lain yang lazim ditemukan adalah sindrom ovarium polikistik, di mana sel telur tidak berkembang normal dan tak berovulasi. Jika ada penyumbatan tuba, sel telur dan sperma tidak dapat bertemu. Bisa jadi ada masalah yang berkaitan dengan rahim, seperti fibroid, tergantung pada letak dan ukuran fibroid tadi. Hal itu bisa menyebabkan masalah pada pembuahan dan penanaman embrio.

Sekitar separuh pasien wanita yang dirawat di pusat kesuburan ini kemungkinan besar akan menjalani operasi laparoskopi untuk memperbaiki kondisi medis yang menyebabkan mereka tidak bisa hamil. Prosedur ini disebut “operasi lubang kunci”. Disebut begitu karena minimally invasive, hanya membutuhkan sayatan kecil, dan dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang canggih termasuk kamera internal. “Tapi, jika me reka tidak memiliki gejala-gejala tertentu dan siklusnya rutin, tidak terasa sakit, indung telur sehat, dan tak terlihat ada kista atau fibroid, operasi mungkin tidak perlu dilakukan. Apalagi jika hasil USG-nya normal,” kata Dr Loi.

Pasien-pasien seperti itu disarankan untuk terus berusaha melakukan pem-buahan secara alami. Namun, jika tetap tidak berhasil, mereka sebaiknya mem- pertimbangkan opsi lain. Opsi utama un- tuk pasangan yang memiliki fungsi tuba sehat dan jumlah sperma mencukupi adalah inseminasi buatan, di mana sperma pria dimasukkan langsung ke dalam rahim. “Atau pilihan terakhir adalah bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Ini memerlukan proses yang lebih panjang lagi,” ujar Dr. Loi.

IVF ini cocok untuk pasien yang me- miliki penyakit tuba. Jika tuba sangat tertutup, inseminasi tidak akan berha- sil. Dalam kasus seperti itu, jika kualitas sperma pria juga sangat lemah atau sangat sedikit, “Kami menyarankan bayi tabung,” katanya.

Dalam proses IVF, telur diambil dari rahim calon ibu dan disuntik dengan sperma pasangan di laboratorium. Ini menciptakan embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rahim. Untuk memaksimalkan peluang keberhasilan, dua sampai tiga embrio dimasukkan berbarengan, sedangkan sisanya dibeku kan untuk kemungkinan dipakai di masa yang akan datang. Tersedia beberapa pilihan rangkaian obat. Tergantung pada pengobatan yang dipilih, masa penyuntikan IVF bisa sependek 2-3 minggu atau sampai enam minggu. Pada umumnya, perawatan tersebut mengharuskan


Penyebab utama ketidaksuburan yang termasuk masalah kaum wanita antara lain endometriosis

calon ibu mendapat suntikan setiap hari untuk merangsang hormonnya sehingga sel telur dapat diproduksi.

Jika mereka pasien internasional, Dr Loi bisa mengajari mereka cara menyuntik sehingga mereka bisa pulang dan melakukannya sendiri. Tapi pasien wanita tetap harus kembali ke Singapura agar dokter bisa memantau sel telurnya lewat USG. Begitu telurnya sudah cukup besar, dokter akan mengambilnya dan melakukan semua proses pembuahan serta memindahkan embrio ke dalam rahim. Kunjungan untuk perawatan IVF sebenarnya hanya memakan waktu sekitar dua ming gu. Tes kehamilan akan dilakukan 17 hari setelah pemindahan embrio, tapiini bisa dilakukan di negara asal pasien.

Pasien dapat mengulangi keseluruhan proses ini jika, setelah memasukkan embrio terakhir, tidak terjadi kehamilan. Setelah setiap siklus yang gagal modifikasi terhadap pengobatan bisa dilakukan untuk memperbaiki hasil pada siklus berikutnya. Meski demikian, tingkat kehamilan kumulatif cenderung turun setelah empat kali percobaan. Kegagalan yang berulang bisa berarti ada masalah dengan sel telur wanita, dan pasangan harus mempertimbangkan pilihan terakhir: donasi sel telur atau adopsi. Untuk kasus-kasus seperti ini, staf Parkway Fertility Centre menyediakan konsultasi.

Meski pusat kesuburan ini tidak bisa menjamin keberhasilan kehamilan setiap pasangan, tingkat kesuksesannya setara dengan pusat-pusat kesuburan di Eropa dan Amerika Serikat. Bagi pasien berusia 30-an tahun, tingkat keberhasilan kehamilannya bisa mencapai 49%, dengan 45% kemungkinan memiliki keturunan. Itu untuk siklus baru. “Untuk siklus embrio yang disimpan kemudian dicairkan, persentasenya mendekati 30%,” ujar Dr Loi, merujuk pada penggunaan embrio yang dibekukan.

Dalam kurun waktu 2006 sampai 2009, dari 852 prosedur pemindahan embrio yang dilakukan di Parkway Fertility Centre, jumlah bayi yang lahir dengan proses IVF mencapai 425 anak. Ini tentu saja merupakan keberhasilan yang luar biasa.

ADVERTORIAL

Baru-baru ini, erbagai kemajuan edis di bidang erawatan kesuburan elah memberikan ilihan kepada pasien kanker wanita tahap ini dan pasangannya untuk menyimpan sel telur, jaringan reproduksi, atau embrio yang nantinya bisa digunakan dalam proses pembuatan bayi tabung.

Penderita Kanker Tetap
Berpeluang Punya
keturunan