Kanker Serviks dan Penanganannya



Apa itu kanker serviks?


Kanker serviks adalah penyakit kanker yang awalnya terjadi di area leher rahim, yang terletak di bagian bawah uterus (rahim) dan terbuka ke bagian atas vagina. Di dunia, kanker serviks merupakan jenis kanker ketiga yang paling sering menyerang kaum wanita. Di Singapura, kasus ini merupakan jenis kanker ketujuh yang paling banyak terjadi.


Apa yang menyebabkan kanker serviks?


Hampir semua kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). HPV adalah virus yang menyebar melalui hubungan seksual. HPV terdiri dari berbagai jenis. Beberapa jenis HPV dapat menyebabkan kanker serviks (kanker leher rahim), sementara jenis HPV yang lain menyebabkan kutil kelamin.

Sebelum infeksi HPV mengarah pada terjadinya kanker serviks, hal ini merupakan kondisi pra-kanker yang disebut displasia, dapat dideteksi dengan metode pap smear. Kondisi pra-kanker ini seratus persen dapat diobati. Oleh karena itu, sangat penting bagi kaum wanita untuk melakukan tes pap smear secara rutin. Perubahan kondisi pra-kanker yang tidak terdeteksi dapat berkembang menjadi kanker serviks dan menyebar ke organ lain, seperti kandung kemih, usus, paru-paru, dan hati.


Bagaimana kanker serviks didiagnosa?


Perubahan kondisi pra-kanker dari leher rahim dan kanker serviks tidak dapat dilihat secara kasat mata. Metode pap smear diperlukan untuk membantu mendeteksi perubahan ini. Apabila perubahan abnormal ditemukan pada tes pap smear, leher rahim biasanya diperiksa dengan bantuan mikroskop sesuai prosedur, yang sering disebut metode kolposkopi. Selama tes kolposkopi, biopsi (pengambilan sejumlah kecil jaringan tubuh) pun dilakukan, jaringan tubuh diangkat dan dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan.


Apa saja gejala umum yang terjadi pada kanker serviks?


Pada umumnya, kanker serviks stadium dini tidak memiliki gejala. Gejala-gejala yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Pendarahan pada vagina setelah hubungan seksual
  • Pendarahan pada vagina di luar periode menstruasi atau setelah menopause
  • Keluarnya cairan abnormal dari vagina, seperti timbulnya bercak darah, keputihan yang berlebihan, dan bau busuk,

  • Siapa saja yang rentan terhadap kanker serviks?


    Faktor gaya hidup tinggi, meliputi:

  • Melakukan hubungan seksual pada usia dini
  • Bergonta-ganti pasangan seksual
  • Merokok dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
  • Tidak melakukan tes/cek pap smear secara rutin

  • Apa saja pengobatan yang tersedia bagi penderita kanker serviks?


    Jenis pengobatan pada kanker serviks tergantung pada:

  • Tingkat stadium pada kanker dan ukuran tumor
  • Usia penderita dan kesehatan umum
  • Keinginan penderita untuk memiliki anak di masa depan

  • Untuk kondisi pra-kanker dan kanker serviks stadium dini, pengobatan lengkap mungkin saja, yaitu dengan mengangkat dan menghilangkan jaringan abnormal. Ada beberapa cara untuk melakukan ini tanpa harus mengangkat rahim atau merusak jaringan serviks, sehingga tidak mempengaruhi kesuburan pada wanita.


    Jenis operasi, meliputi:

  • Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP), menggunakan lingkaran kawat panas untuk mengangkat dan menghilangkan jaringan abnormal
  • Terapi laser, menggunakan sinar laser untuk membakar jaringan abnormal

  • Untuk kanker serviks stadium lanjut, pengobatan biasanya melibatkan histerektomi radikal, yang mengangkat rahim dan jaringan-jaringan di sekitarnya, meliputi kelenjar getah bening dan bagian atas vagina. Terkadang, radiasi dan kemoterapi dilakukan sebelum atau setelah operasi.


    Bagaimana kanker serviks mempengaruhi kesuburan?


    Kesuburan dapat terpengaruh jika histerektomi dilakukan, atau jika kemoterapi dan radioterapi dilakukan. Oleh karena itu, kaum wanita perlu melakukan tes pap smear secara rutin sebagai tahap awal pengobatan pada kondisi pra-kanker, sehingga tidak mempengaruhi kemampuan untuk dapat hamil. Bagi sebagian besar wanita dengan kondisi pra-kanker atau kanker serviks stadium sangat awal, pengobatan tidak akan menyebabkan masalah selama masa kehamilan berikutnya. Namun, jika daerah yang abnormal sangat luas dan sejumlah besar jaringan harus diangkat dari leher rahim, ada risiko kecil dalam melahirkan lebih awal, atau memiliki bayi dengan berat lahir yang rendah.


    Apa yang dapat dilakukan pasien untuk mengurangi risiko terkena kanker serviks?


    Anda dapat mengurangi risiko kanker serviks dengan cara, antara lain:

  • Hidup sehat
    Para wanita sebaiknya melakukan hubungan seksual secara aman, misal menggunakan kondom. Merokok telah terbukti dapat meningkatkan risiko kanker serviks dan wanita sebaiknya menghindari dan berhenti merokok.
  • Tes pap smear rutin
    Sebagian besar wanita yang telah didiganosa menderita kanker serviks, saat ini tidak melakukan tes pap smear secara rutin, atau mereka tidak menindaklanjuti hasil abnormal dari tes pap smear.
  • Berbicara dengan dokter mengenai vaksinasi HPV.
    Dua jenis vaksin, Cervarix dan Gardasil, telah disetujui untuk digunakan di Singapura. Gardasil melindungi infeksi terhadap HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. Sementara itu, Cervarix melindungi infeksi terhadap HPV tipe 16 dan 18. Sekitar 70 persen HPV tipe 16 dan 18 menyebabkan kanker serviks, sedangkan HPV tipe 6 dan 11 menyebabkan kutil kelamin.

  • Vaksinasi diberikan sebanyak tiga kali suntikan selama 6 bulan. Hal ini telah terbukti aman dan efektif, juga berpotensi memberikan perlindungan seumur hidup terhadap serangan kanker serviks.




    Dr Kelly Loi menjalani pelatihan medis di Inggris, ia merupakan lulusan dari Universitas Oxford. Sebagai mahasiswa kedokteran, Dr Kelly Loi menyelesaikan pendidikan di Amerika Serikat, Rumah Sakit John Hopkins di Baltimore, dan Rumah Sakit Umum Massachusetts, Universitas Harvard di Boston. Setelah lulus, ia bekerja sebagai petugas di Rumah Sakit John Radcliffe dan Rumah Sakit Churchill di Oxford. Ia mulai mengkhususkan diri di bidang Obstetrik & Ginekologi sebagai petugas senior di Rumah Sakit St Mary, Universitas Imperial di London.

    Dr Loi telah berlatih sebagai dokter kandungan & ginekolog selama lebih dari 10 tahun. Selama di Singapura, ia menjabat sebagai konsultan di Departemen Reproduksi Obat di Rumah Sakit KK dan juga mengajar di Fakultas Kedokteran Yong Loo Lin dan Pascasarjana Fakultas Kedokteran Duke. Ia mendapatkan beasiswa luar negeri untuk menjalani pelatihan lanjutan di Belgia dalam bidang pelestarian kesuburan bagi penderita kanker, di bawah pengajaran salah satu pakar terkemuka, yaitu Profesor Jacques Donnez. Selain memiliki akreditasi dari Departemen Kesehatan





    untuk melakukan perawatan bantuan reproduksi dan fertilisasi in-vitro kepada pasien, ia juga terakreditasi untuk melakukan operasi Gynae-laparoskopi dan operasi reproduksi.

    Selama bertahun-tahun, Dr Loi mengembangkan keahlian khusus di bidang perawatan antenatal dan kebidanan, kandungan, operasi laparoskopi, pengobatan infertilitas (ketidaksuburan) serta IVF. Ia aktif terlibat dalam penelitian di bidang ini dan menyajikan makalah tentang topik ini di konferensi medis baik lokal maupun internasional. Ia juga menulis banyak makalah medis dan telah diundang untuk menjadi peninjau di jurnal medis internasional bidang Obstetrik & Ginekologi. Pada saat yang sama, ia memenangkan penghargaan karena pelayanan dan dedikasinya yang luar biasa kepada pasien dari Rumah Sakit KK di tahun 2008.

    Sebagai direktur medis di Pusat Kesehatan dan Kesuburan Wanita, Dr Loi bertujuan untuk terus berdedikasi memberikan layanan kebidanan dan ginekologi kepada para pasiennya, dengan fasilitas yang memiliki nilai seni, lingkungan yang dirancang guna kenyamanan pasien dan privasi pikiran. Logo klinik melambangkan bagaimana melayani perempuan dari segala usia, baik remaja sampai ibu-ibu, dan seterusnya.

    Catatan pribadi, Dr Loi adalah ibu dari tiga anak cantik, di mana sebagian besar waktunya dihabiskan bersama mereka. Ia juga seorang pianis yang mampu mencapai perbedaan 8 tingkat dan telah menerima sertifikat dalam pertunjukannya bermain piano. Namun, hari ini, repertoar-nya agak didominasi oleh pembuatan lagu.